Sejarah Kota Thaif: Dari Penolakan Dakwah Nabi hingga Jejak Wisata Religi yang Menggetarkan

Sejarah Kota Thaif Dari Penolakan Dakwah Nabi hingga Menjadi Wisata Religi | Alsha Tours & Travel

Kunjungan ke dataran tinggi Thaif sering kali hanya berhenti pada kesan visual yang menyenangkan. Tanpa pemahaman yang utuh, jemaah berisiko melewatkan makna spiritual mendalam yang membuat napak tilas ke kota ini terasa seperti sekedar singgah. Padahal, kawasan ini menyimpan jejak peristiwa paling mengharukan dalam sejarah Islam.

Solusi untuk menjaga kedalaman makna ibadah ini adalah dengan memahami terlebih dahulu sejarah kota thaif melalui panduan terstruktur dari Alsha Tour sebelum agenda ziarah dimulai. Dengan bekal pemahaman komprehensif ini, setiap lokasi tidak lagi hanya dipandang sebagai destinasi biasa, tetapi menjadi bagian dari rangkaian kisah yang utuh—mulai dari era jahiliah, peristiwa penolakan dakwah, hingga jejak wisata religi yang masih dapat Kawan Alsha kunjungi hari ini.

Sejarah Kota Thaif: Dari Penolakan Dakwah Nabi hingga Jejak Wisata Religi yang Menggetarkan

Di balik perjalanan ibadah umroh dan haji, terdapat sejumlah kota bersejarah di sekitar Makkah yang menyimpan kisah penting dalam perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ. Salah satunya adalah Kota Thaif, sebuah wilayah di pegunungan Hijaz yang memiliki peran besar dalam sejarah Islam sekaligus dikenal dengan suasana alamnya yang sejuk.

Mengenal Thaif: Kota di Atas Awan Hijaz

Thaif merupakan salah satu kota bersejarah di wilayah Hijaz yang tidak terlepas dari perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ. Terletak di pegunungan Sarawat pada ketinggian sekitar 1.800 meter di atas permukaan laut, kota ini berada sekitar 75–80 kilometer di tenggara Makkah. Saat Makkah dikenal dengan suhu yang panas, Thaif justru memiliki udara yang berkabut, dan berangin lembut. Kondisi inilah yang menjadikannya tempat peristirahatan musim panas, termasuk bagi keluarga Kerajaan Saudi.

Etimologi nama Thaif pun menyimpan arti yang memikat. Para ahli sejarah mengemukakan kota Thaif berasal dari kata Arabṭāfa (طَافَ) yang berarti “berkeliling”, merujuk pada tembok yang dahulu mengelilingi wilayah kota ini. Sebelum dikenal sebagai Thaif, kawasan ini disebut Wajj, mengikuti nama lembah tempatnya berada. Dikenal sebagai wilayah yang subur, Thaif menghasilkan berbagai komoditas seperti anggur, kurma, tin, delima, dan aprikot, serta memiliki kebun mawar yang hingga kini menjadi ciri khasnya di industri parfum.

Thaif dalam Peta Jazirah Arab

Dalam peta Jazirah Arab klasik, Thaif merupakan pusat penyeimbang antara Makkah dan wilayah selatan jazirah. Pada sejarah Kota Thaif, posisi geografis ini menjadikannya wilayah yang strategis sekaligus benteng pertahanan alami, berkat perlindungan Pegunungan Ghazwan yang mengelilinginya serta ketersediaan sumber mata air yang melimpah.

Dari Makkah, perjalanan menuju kota Thaif memakan waktu sekitar 1,5 hingga 2 jam melalui jalur Al-Hada yang berkelok dengan pemandangan pegunungan. Jalur ini tidak hanya menjadi akses utama, tetapi juga bagian dari wilayah yang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Kota Thaif dan perjalanan Rasulullah ﷺ.

sejarah kota Thaif Arab Saudi
Thaif, kota di atas pegunungan Sarawat — salah satu kota tertinggi di Arab Saudi.

Hasil Bumi dan Keistimewaan Alam

Hasil bumi Taif menjadikannya dikenal sebagai salah satu wilayah paling subur di kawasan Hijaz. Sejak era pra-Islam, kota ini telah memegang peran krusial sebagai pemasok utama komoditas buah bagi Makkah, dengan hasil bumi unggulan seperti anggur dan berbagai sektor pertanian lainnya.

Salah satu komoditas yang paling dikenal adalah anggur. Kawasan perkebunan anggur ini juga menjadi salah satu lokasi yang tercatat dalam sejarah Kota Thaif karena berkaitan dengan perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ saat berada di wilayah tersebut. Selain anggur, Thaif juga dikenal sebagai penghasil madu pegunungan yang memiliki cita rasa khas berkat kondisi alamnya.

Thaif juga terkenal dengan kebun mawar Damask yang telah menjadi bagian dari identitas kota ini selama bertahun-tahun. Setiap musim semi, bunga-bunga tersebut dipanen untuk disuling menjadi minyak atsiri yang digunakan dalam industri parfum. Hingga kini, kebun mawar dan rumah penyulingannya masih menjadi salah satu destinasi yang banyak dikunjungi saat berwisata ke Thaif.

Thaif Sebelum Islam: Kota Elite yang Menyembah Berhala

Jauh sebelum Islam hadir, sejarah Kota Thaif telah dibentuk oleh masyarakat yang hidup dalam kemakmuran sekaligus tradisi jahiliah. Kota ini berada di bawah kekuasaan kabilah Bani Tsaqif yang dikenal kuat secara ekonomi di Jazirah Arab. Nama Tsaqif sendiri berasal dari kata tsaqifa (ثَقِفَ) yang berarti cerdas dan berbudaya, berasal dari akar kata yang sama dengan tsaqafah yang bermakna peradaban.

Posisi Thaif sebenarnya hampir sejajar dengan Makkah sebagai pusat perdagangan. Banyak saudagar Quraisy memiliki kebun serta aset di wilayah ini. Namun di balik kemakmurannya, masyarakat Thaif masih mempertahankan beberapa tradisi jahiliah. Salah satu sesembahan yang paling dihormati adalah berhala Latta, yang menjadi pusat kepercayaan masyarakat Bani Tsaqif kala itu.

Berhala Latta: Simbol Keangkuhan Thaif

Berhala Latta merupakan salah satu simbol kepercayaan masyarakat Bani Tsaqif sebelum Islam. Keberadaannya kemudian menjadi bagian penting dalam sejarah Kota Thaif karena memperlihatkan kondisi sosial dan keagamaan masyarakat pada masa itu.

Menariknya, asal-usul Latta justru dikaitkan dengan sosok yang saleh. Berdasarkan Tafsir Ibnu Katsir, melalui riwayat Ibnu Abbas yang juga dicatat oleh Imam al-Bukhari, Latta pada awalnya adalah seorang laki-laki yang biasa menyiapkan makanan berupa sawiq untuk para jamaah haji.

كَانَتِ اللَّاتُ رَجُلاً يَلُتُّ السَّوِيقَ لِلْحَاجِّ

Kānat al-Lātu rajulan yaluttu al-sawīqa lil-ḥājj

“Latta dahulunya adalah seorang laki-laki yang biasa mengadon tepung (sawiq) untuk para jamaah haji.” (Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Jilid VII, hlm. 453, tafsir QS. al-Najm: 19)

Setelah laki-laki itu wafat, makamnya mulai diziarahi dan dimuliakan secara berlebihan hingga kemudian dijadikan sebagai objek penyembahan. Peristiwa ini menjadi salah satu pelajaran penting dalam sejarah Islam tentang bagaimana penghormatan kepada seseorang dapat berubah menjadi praktik yang menyimpang ketika melampaui batas.

infografis Thaif pra Islam dan berhala Latta kabilah Tsaqif
Infografis Thaif sebelum Islam: dari nama kuno Wajj, kekuasaan Bani Tsaqif, hingga berhala Latta yang menjadi pusat penyembahan.

Kabilah Tsaqif dan Struktur Kekuasaan

Imam al-Thabari dalam Tarikh al-Umam wa al-Muluk (Jilid II, hlm. 346–347) menjelaskan bahwa Bani Tsaqif berasal dari keturunan Qasiyy bin Munabbih bin Bakr bin Hawazin, salah satu cabang Bani Hawazin di wilayah selatan Hijaz. Latar belakang ini membuat Bani Tsaqif tumbuh sebagai kabilah yang memiliki pengaruh kuat dalam perdagangan, pemerintahan, dan kehidupan masyarakat Thaif.

Pada masa dakwah Rasulullah ﷺ, kepemimpinan Thaif berada di tangan tiga bersaudara, yaitu Abdu Yalail bin Amr, Mas’ud bin Amr, dan Habib bin Amr. Mereka memegang peranan penting sekaligus menjaga kedudukan berhala Latta sebagai pusat kepercayaan masyarakat. Keputusan para pemimpin Bani Tsaqif inilah yang kemudian menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah Kota Thaif, sekaligus mengawali kisah dakwah Rasulullah ﷺ di wilayah tersebut.

Tahun Kesedihan: Saat Nabi Memilih Thaif

Tahun ke-10 kenabian, sekitar 619 Masehi, dikenal sebagai ‘Aam al-Huzn atau Tahun Kesedihan. Dalam rentang waktu yang berdekatan, Rasulullah ﷺ kehilangan Khadijah RA dan Abu Thalib, dua sosok yang selama ini memberikan dukungan besar dalam kehidupan pribadi maupun perjuangan dakwah beliau. Sejak saat itu, tekanan dari kaum Quraisy terhadap Rasulullah ﷺ semakin meningkat.

Dalam Nur al-Yaqin, al-Khudhari Bek mencatat bahwa Rasulullah ﷺ berangkat ke Thaif dengan harapan memperoleh perlindungan dan dukungan dari Bani Tsaqif (Nur al-Yaqin fi Sirat Sayyid al-Mursalin, hlm. 60). Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Bani Tsaqif merupakan salah satu kabilah besar di sekitar Makkah, dan Rasulullah ﷺ juga memiliki hubungan kekerabatan dengan mereka melalui jalur ibu.

Rasulullah ﷺ kemudian berangkat bersama Zaid bin Haritsah menempuh perjalanan sekitar 80 kilometer dengan berjalan kaki melalui jalur pegunungan untuk menghindari perhatian kaum Quraisy. Kini, perjalanan dari Makkah menuju Thaif dapat ditempuh sekitar 1,5 hingga 2 jam menggunakan kendaraan. Agar pengalaman ibadah semakin bermakna, lengkapi juga persiapan Anda dengan membaca panduan umroh lengkap sebelum berangkat ke Tanah Suci.

Pertemuan dengan Tiga Pemuka Tsaqif

Sesampainya di Thaif, Rasulullah ﷺ menemui tiga bersaudara yang memimpin kota saat itu, yaitu Abdu Yalail, Mas’ud, dan Habib bin Amr. Beliau mengajak mereka kepada Islam sekaligus berharap memperoleh perlindungan agar dakwah dapat terus berjalan.

Namun, ajakan tersebut tidak hanya ditolak. Rasulullah ﷺ juga menerima ucapan yang merendahkan dan menunjukkan penolakan keras dari para pemimpin Thaif. Salah seorang dari mereka berkata, “Jika kamu memang nabi, sungguh engkau terlalu agung untuk aku ajak bicara. Jika kamu berbohong, tidak pantas aku berbicara denganmu.”.

Peristiwa ini tercatat dalam al-Sirah al-Nabawiyyah karya Ibn Hisyam (Jilid I, hlm. 419–421) yakni salah satu rujukan utama yang banyak digunakan dalam pembahasan sejarah Kota Thaif dan perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ. Bagi para pemimpin Bani Tsaqif, menerima dakwah Rasulullah ﷺ juga berarti menghadapi perubahan besar terhadap tatanan sosial, keagamaan, dan ekonomi yang selama ini mereka pertahankan.

Pengejaran dan Pelemparan Batu

Penolakan terhadap Rasulullah ﷺ tidak berhenti pada pertemuan tersebut. Pengusiran beliau dari Thaif kemudian menjadi salah satu peristiwa yang membentuk sejarah Kota Thaif. Para pemimpin Bani Tsaqif menghasut masyarakat untuk mengusir beliau dari kota. Mereka berdiri di sepanjang jalan dan melempari Rasulullah ﷺ dengan batu hingga kedua kaki beliau terluka. Dalam peristiwa itu, Zaid bin Haritsah berusaha melindungi Rasulullah ﷺ hingga dirinya juga mengalami luka di bagian kepala.

Beberapa riwayat menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ berada di Thaif selama sekitar 10 hingga 15 hari. Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah (Jilid III, hlm. 155–160) menyebutkan sekitar 10 hari, sementara riwayat lain menyebutkan 15 hari atau malam. Pada akhirnya, Rasulullah ﷺ meninggalkan Thaif dalam keadaan terluka dan berlindung di sebuah kebun anggur milik Utbah dan Syaibah bin Rabi’ah, dua tokoh Quraisy yang saat itu berada di Thaif. Di tempat inilah kemudian terjadi pertemuan Rasulullah ﷺ dengan Addas, seorang pemuda Nasrani yang menjadi bagian dari kisah berikutnya.

Addas: Segenggam Anggur dan Sebuah Pengakuan Iman

Kendati bukan pengikut Islam, Utbah dan Syaibah tetap menunjukkan rasa iba saat melihat kondisi fisik Rasulullah ﷺ. Keduanya kemudian meminta Addas, seorang pemuda Nasrani asal Ninawa untuk mengantarkan setangkai anggur. Saat Rasulullah ﷺ mengucapkan “Bismillah” sebelum memakan anggur tersebut, Addas langsung memperhatikan beliau. Percakapan yang terjadi kemudian mempertemukan Addas dengan kisah Nabi Yunus AS, sosok yang berasal dari kampung halamannya di Ninawa.

Setelah mengetahui bahwa Rasulullah ﷺ adalah seorang nabi, Addas mencium tangan dan kaki beliau sebagai bentuk penghormatan, kemudian memeluk Islam. Di tengah penolakan yang diterima Rasulullah ﷺ di Thaif, Addas menjadi orang pertama yang menerima dakwah beliau dalam perjalanan tersebut. Lokasi pertemuan ini kemudian dikenal sebagai Masjid Addas dan hingga kini masih menjadi salah satu tujuan ziarah yang bisa Kawan Alsha kunjungi dalam rangkaian perjalanan umroh ke Thaif.

Masjid Addas Thaif tempat bersejarah Islam
Masjid Addas, dibangun di lokasi pertemuan Nabi dengan pemuda Nasrani yang menyatakan keislaman.

Doa yang Lebih Kuat dari Batu

Perjalanan meninggalkan Thaif menjadi salah satu momen yang paling berkesan dalam sejarah Kota Thaif sekaligus perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ. Setelah menghadapi penolakan dan perlakuan yang menyakitkan, beliau tidak memilih membalas. Sebaliknya, Rasulullah ﷺ menunjukkan kesabaran dan kasih sayang yang kemudian menjadi teladan bagi umat Islam hingga hari ini.

Tawaran Malaikat dan Pilihan Nabi

Dalam hadits sahih yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim, Malaikat Jibril datang bersama malaikat penjaga gunung. Melalui malaikat tersebut, Allah SWT memberikan pilihan kepada Rasulullah ﷺ. Jika beliau menghendaki, dua gunung besar (al-Akhasyabain) akan dihimpitkan kepada penduduk Thaif sebagai balasan atas perlakuan mereka.

Namun, Rasulullah ﷺ memilih jawaban yang menunjukkan keluasan kasih sayang dan harapan beliau:

لَا، بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

Lā, bal arjū an yukhrija Allāhu min aṣlābihim man ya’budu Allāha waḥdahu lā yushrika bihī shay’ā

“Tidak. Justru aku berharap Allah mengeluarkan dari tulang sulbi mereka generasi yang menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.” (HR. al-Bukhari No. 3231; Muslim No. 1795)

Rasulullah ﷺ tidak memilih pembalasan. Beliau justru mendoakan agar dari keturunan mereka lahir generasi yang beriman kepada Allah SWT. Beberapa tahun kemudian, Thaif menerima Islam dan menjadi bagian dari perkembangan peradaban Islam. Peristiwa ini menjadi salah satu pelajaran berharga dalam sejarah Kota Thaif tentang kesabaran, kasih sayang, dan harapan dalam berdakwah.

Doa di Lembah: Ekspresi Tawakal Tertinggi

Sebelum meninggalkan Thaif, Rasulullah ﷺ memanjatkan sebuah doa yang tercatat dalam beberapa kitab sirah al-Sirah al-Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam (Jilid I, hlm. 420–421) dan al-Mawahib al-Laduniyyah karya al-Qasthalani (Jilid I, hlm. 290–291). Doa ini diawali dengan pengakuan yang sangat tulus atas kelemahan diri di hadapan Allah SWT: “Allahumma ilaika asyku dha’fa quwwati…” yang berarti “Ya Allah, hanya kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku, sedikitnya upayaku, dan hinanya aku di mata manusia.”

Dalam perjalanan sejarah Kota Thaif, doa ini menjadi salah satu warisan yang paling dikenang. Melalui doa tersebut, Rasulullah ﷺ tidak memohon kebinasaan bagi penduduk Thaif, melainkan menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah SWT dan berharap tetap berada dalam ridha-Nya. Sikap ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ senantiasa mengedepankan tawakal dan harapan kepada Allah SWT, bahkan ketika menghadapi ujian yang berat.

Pengepungan Thaif dan Masuknya Islam

Sekitar sepuluh tahun setelah peristiwa penolakan terhadap Rasulullah ﷺ di Thaif, kondisi Jazirah Arab mulai berubah. Pada tahun 8 Hijriah (630 M), Makkah berhasil dibebaskan melalui peristiwa Fathu Makkah, kemudian disusul kemenangan kaum Muslimin dalam Perang Hunain. Setelahnya, Thaif menjadi salah satu wilayah yang masih mempertahankan kekuatannya dan belum menerima Islam.

Pengepungan Thaif Pasca Fathu Makkah

Usai Perang Hunain, kaum Muslimin bergerak menuju Thaif. Bani Tsaqif bertahan di balik benteng kota dengan persediaan yang cukup, sehingga pengepungan yang berlangsung sekitar 20 hari tidak membuahkan hasil. Rasulullah ﷺ kemudian memutuskan untuk mengakhiri pengepungan. Ketika sebagian sahabat meminta beliau mendoakan kebinasaan Bani Tsaqif, Rasulullah ﷺ justru berdoa, “Ya Allah, berilah petunjuk kepada Tsaqif dan datangkanlah mereka.” Kisah ini terdokumentasi dalam al-Bidayah wa al-Nihayah Ibn Katsir (Jilid IV, hlm. 360–375) dan al-Maghazi al-Waqidi (Jilid III, hlm. 928–943).

Setahun kemudian, tepatnya pada tahun 9 Hijriah, utusan Bani Tsaqif datang ke Madinah untuk menyatakan keislaman mereka. Berhala Latta yang selama bertahun-tahun menjadi pusat kepercayaan masyarakat pun dihancurkan. Ini menjadi salah satu bukti bahwa doa Rasulullah ﷺ di Qarnul Manazil benar-benar terwujud melalui hidayah yang Allah SWT berikan kepada penduduk Thaif.

Thaif Pasca-Islam: Pusat Ilmu dan Dakwah

Masuknya Islam membawa perubahan besar bagi Thaif. Kota ini kemudian berkembang menjadi salah satu pusat ilmu di kawasan Hijaz. Salah satu ulama yang paling dikenal dari Thaif adalah Abdullah bin Abbas RA, sepupu Rasulullah ﷺ yang mendapat julukan turjuman al-Qur’an karena keluasan ilmunya dalam menafsirkan Al-Qur’an. Beliau menetap, mengajar, hingga wafat di Thaif. Untuk mengenang jasa beliau, dibangun Masjid Abdullah bin Abbas pada tahun 592 Hijriah yang hingga kini masih menjadi salah satu destinasi ziarah dalam rangkaian perjalanan umroh ke Thaif.

Perjalanan sejarah Kota Thaif memang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan Islam di Makkah dan sekitarnya. Untuk memahami keterkaitan keduanya secara lebih utuh, Kawan Alsha dapat membaca sejarah Makkah mulai dari masa jahiliah hingga menjadi pusat peradaban Islam.

Situs Bersejarah Thaif: Tempat yang Mengajarkan

Berbagai jejak sejarah Kota Thaif masih dapat umat Muslim kunjungi hingga saat ini. Setiap lokasi menyimpan kisah yang berbeda, mulai dari perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ hingga perkembangan Islam di kawasan tersebut. Kementerian Agama RI juga mencatat pengalaman ziarah jemaah Indonesia ke kota ini dalam catatan ziarah jejak Nabi di Thaif. Selain mengunjungi situs bersejarah, Kawan Alsha juga dapat melengkapi pengalaman religi dengan menjelajahi berbagai destinasi wisata di kota Thaif yang menjadi daya tarik kota in.

Masjid Addas

Rumah ibadah kecil berdinding kuning ini berdiri di tengah kebun anggur dan permukiman padat. Masjid ini berada di tengah kawasan permukiman dan dapat diakses melalui gang-gang sempit yang menjadi ciri lingkungan sekitarnya. Di area sekitar masjid masih terdapat kebun anggur, delima, dan mawar yang menjadi bagian dari lanskap khas Thaif.

Masjid Addas dikenal sebagai lokasi pertemuan Rasulullah ﷺ dengan Addas, seorang pemuda asal Ninawa yang kemudian memeluk Islam. Karena peristiwa tersebut, masjid ini menjadi salah satu situs yang paling sering dikunjungi untuk mengenang perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ di Thaif.

Masjid Kuk (Kuw’) dan Masjid Abdullah bin Abbas

Tidak jauh dari pusat kota, Masjid Kuk menandai tempat Rasulullah ﷺ beristirahat dalam perjalanan Thaif. Riwayat setempat menyebut mukjizat batu yang melunak dan ambles saat Nabi menopangkan sikunya yang mana bekasnya menjadi penanda yang dikenang penduduk turun-temurun. Meski bangunannya sederhana, masjid ini masih menjadi salah satu lokasi yang dikunjungi untuk mengenang perjalanan Rasulullah ﷺ saat berada di Thaif.

Sementara itu, Masjid Abdullah bin Abbas yang dibangun tahun 592 H berdiri lebih megah di pusat kota. Hingga kini, Masjid Abdullah bin Abbas menjadi salah satu lokasi yang sering disinggahi dalam rangkaian ziarah ke Thaif, baik untuk beribadah maupun mengenang kiprah Abdullah bin Abbas RA dalam perkembangan ilmu Islam.

Pasar Ukaz dan Kawasan Wisata Alam

Sekitar 40 kilometer dari kota, terbentang situs Pasar Ukaz — salah satu pasar sekaligus festival sastra terbesar era pra-Islam. Di sinilah para penyair legendaris Arab dahulu beradu karya, dan di sini pula Rasulullah ﷺ pernah menyampaikan dakwah kepada kabilah-kabilah yang datang. Kini situs ini direvitalisasi pemerintah Saudi sebagai festival budaya tahunan yang hidup kembali setiap musimnya.

Selain mengunjungi situs bersejarah, Kawan Alsha juga dapat menikmati keindahan alam Thaif melalui kawasan Al-Hada, kebun mawar, Taman Al-Rudaf, hingga pasar buah yang menawarkan berbagai hasil bumi khas wilayah pegunungan. Kombinasi sejarah, budaya, dan alam inilah yang menjadikan Thaif sebagai salah satu destinasi yang banyak dipilih dalam rangkaian perjalanan umroh.

Situs Bersejarah Thaif dan Catatan untuk Jamaah
Nama Situs Nilai Sejarah Kondisi Saat Ini Catatan untuk Jamaah
Masjid Addas Lokasi pertemuan Nabi dengan Addas, muslim pertama dari perjalanan Thaif Terawat, berukuran kecil, dikelilingi kebun anggur Akses lewat gang sempit; datang pagi agar leluasa
Masjid Kuk (Kuw’) Tempat Rasulullah beristirahat; riwayat mukjizat batu yang ambles Sederhana, kurang terawat Tetap jaga adab; cukup singgah singkat untuk mengenang
Masjid Abdullah bin Abbas Mengenang sahabat ahli tafsir yang mengajar dan wafat di Thaif; dibangun 592 H Megah, aktif digunakan, ada perpustakaan Cocok untuk shalat dan istirahat rombongan
Lokasi Pelemparan Batu Jalur pengusiran Nabi oleh penduduk Thaif Kawasan permukiman; penanda terbatas Butuh pemandu yang paham sejarah untuk menemukannya
Pasar Ukaz Pasar dan festival sastra terbesar era pra-Islam; lokasi dakwah Nabi kepada kabilah Direvitalisasi sebagai festival budaya tahunan Ramai saat musim festival; cek jadwal sebelum datang

Thaif dan Kamu: Menjangkaunya lewat Perjalanan Umroh

Setelah mengikuti rangkaian sejarah Kota Thaif, kota ini tidak lagi hanya dipahami sebagai destinasi wisata. Thaif menyimpan jejak peristiwa penting dalam perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ, yang memberikan pelajaran tentang kesabaran, pengampunan, dan doa yang penuh harapan. Mengunjunginya menjadi bagian dari pemahaman yang lebih utuh dalam rangkaian perjalanan umroh.

Kabar baiknya, kamu tidak perlu menyusun semuanya sendiri. Alsha Tours, travel umroh resmi berizin dengan Akreditasi A, telah merancang perjalanan umroh yang memungkinkanmu menelusuri jejak-jejak bersejarah ini dengan khusyuk dan bernilai ibadah, mulai dari perjalanan umroh reguler hingga paket dengan city tour Thaif. Sebelum memutuskan, ada baiknya kamu juga memahami berapa lama waktu ideal umroh agar rangkaian ibadah dan ziarahmu terasa cukup, tidak terburu-buru.

rute city tour Thaif dari Makkah untuk jamaah umroh
Rute umum city tour Thaif: Makkah menuju Al-Hada, lalu situs-situs ziarah di kota Thaif, dan kembali ke Makkah — total perjalanan sekitar 75–80 km sekali jalan, ditempuh 1,5–2 jam.

City Tour Thaif: Apa Saja yang Biasa Masuk Itinerary?

City tour Thaif umumnya dijadwalkan satu hari penuh di sela rangkaian ibadah di Makkah. Rute yang lazim dimulai dari perjalanan menanjak melewati Al-Hada, lalu berlanjut ke Masjid Addas, Masjid Kuk, dan Masjid Abdullah bin Abbas, sebelum ditutup dengan kunjungan ke kebun mawar atau pasar buah. Sepanjang rute, muthawwif akan menghidupkan kembali kisah-kisah yang baru saja kamu baca — tepat di lokasi kejadiannya.

Alsha Tours menyusun rangkaian ini secara terstruktur agar ziarah dan wisata alam saling melengkapi, bukan saling memakan waktu. Kamu bisa melihat contoh susunan harinya pada itinerary umroh yang kami sediakan sebagai gambaran sebelum berangkat.

Memilih Paket yang Tepat: Umroh Reguler vs Umroh Plus Wisata

Pada dasarnya terdapat dua jalur perjalanan yang bisa Kawan Alsha pilih. Paket umroh reguler berfokus pada Makkah dan Madinah, cocok untuk kamu yang ingin menjalankan ibadah dengan rangkaian utama tanpa tambahan destinasi lain. Sementara paket umroh plus memberikan pengalaman yang lebih luas, dengan tambahan city tour Thaif seperti yang dibahas dalam artikel ini, atau perjalanan lintas negara seperti paket umroh plus Turki yang mengajak Kawan Alsha menyusuri jejak peradaban Utsmani, termasuk berbagai tempat terkenal di Turki yang memikat.

Alsha dengan Akreditasi A menyediakan kedua pilihan tersebut, didampingi muthawwif berpengalaman yang akan membantu menjelaskan konteks sejarah di setiap lokasi yang dikunjungi. Untuk mempertimbangkan pilihan yang sesuai, kamu dapat mempelajari terlebih dahulu gambaran biaya umroh untuk tiap paket, serta memastikan kelengkapan syarat umroh yang berlaku saat ini.

Persiapan Sebelum ke Thaif

Ada beberapa hal sederhana yang membuat kunjunganmu ke Thaif jauh lebih nyaman. Pertama, bawa jaket tipis — udara pegunungan Thaif sejuk dan bisa terasa dingin, kontras dengan Makkah. Kedua, pilih keberangkatan pagi agar kamu tiba sebelum terik dan punya waktu cukup di setiap situs. Ketiga, jaga adab di tempat-tempat bersejarah: niatkan kunjungan untuk mengambil pelajaran, bukan sekadar berfoto, dan hormati warga yang tinggal di sekitar situs. Daftar lengkap persiapan sebelum umroh bisa membantumu mengemas barang dengan tepat.

Dan yang terpenting: perjalanan ini akan jauh lebih bermakna jika ibadahmu juga tertata. Pelajari tata cara umroh sesuai sunnah dan resapi keutamaan umroh sebagai bekal hati. Bersama Alsha — travel umroh resmi dengan Akreditasi A — kamu tidak hanya diantar sampai ke Thaif, tetapi juga dibimbing memahami setiap kisah di baliknya. Karena pada akhirnya, yang kamu bawa pulang dari kota di atas awan ini bukan hanya foto, melainkan pelajaran tentang doa yang tidak pernah sia-sia.

Alsha Tours Solo

Alsha Tours Lampung