Sejarah Kota Makkah: Dari Lembah Gersang hingga Pusat Peradaban Islam

Sejarah Mekkah - Dari Lembah Gersang hingga Pusat Peradaban Islam | Alsha Tours & Travel

Bagi umat Muslim, Makkah tentu bukan sekadar kota tujuan untuk menunaikan ibadah umroh dan haji. Di sinilah berdiri Kakbah yang menjadi kiblat untuk semua Umat Muslim di seluruh dunia. Wajar sekali jika Kawan Alsha yang selama ini hanya bisa melihat suasananya lewat foto atau siaran di media sosial, langsung merasa penasaran dengan kisah asli di balik tempat-tempat suci yang kamu datangi di sini.

Di samping menjawab rasa ingin tahu, memahami sejarah kota Makkah juga dapat membuat pengalaman ibadah Kawan Alsha terasa jauh lebih bermakna. Saat mengetahui kisah di balik kota yang setiap tahun didatangi jutaan jamaah ini, setiap langkah kamu di sana akan terasa memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan jejak kehidupan para nabi serta awal mula dakwah Rasulullah SAW.

Menemani persiapan Kawan Alsha menuju Tanah Suci, Alsha Tours mengajak kamu mengenal lebih dekat sejarah kota Makkah. Seluruh pembahasan di bawah ini mengacu pada hadis-hadis sahih, kitab-kitab ulama klasik, serta catatan para sejarawan Islam yang banyak dijadikan rujukan dalam memahami sejarah Kota Makkah.

foto aerial masjidil haram dan kakbah dari udara
Masjidil Haram, Makkah — tempat yang disebut sebagai pusat bumi dalam berbagai kitab klasik.

Makkah Sebelum Ada Manusia — Lembah yang Dipilih

Bagi Kawan Alsha yang pernah mengunjungi di era sekarang, mungkin sulit membayangkan bahwa kota suci ini dahulu hanyalah sebuah lembah tandus yang dikelilingi pegunungan berbatu. Tidak ada hamparan pepohonan serta sumber air yang membuat kawasan tersebut terlihat cocok untuk menjadi tempat tinggal.

Meskipun secara logika kurang ideal untuk dihuni, kenyataannya lembah ini memiliki kedudukan yang sangat istimewa dari sisi sejarah Kota Makkah. Jauh sebelum berkembang menjadi pusat peradaban Islam, lokasi ini telah dipilih Allah SWT untuk menjadi lokasi berdirinya rumah ibadah pertama bagi umat manusia.

Lembah Bakkah dan Penyebutannya dalam Al-Quran

Nama Makkah dalam Al-Quran disebut dengan istilah Bakkah, yang merujuk pada tempat yang sama. Allah SWT menyebutnya dalam firman-Nya:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِّلْعَالَمِينَ

Inna awwala baytin wudi’a lin-nāsi lalladzī bi Bakkata mubārakan wa hudan lil-‘ālamīn

“Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia ialah yang berada di Bakkah (Makkah), yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam.” (QS. Ali Imran: 96)

Menurut Imam Ibnu Jarir al-Thabari dalam tafsirnya Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Quran Bakkah, merujuk pada kawasan tempat Masjidil Haram berdiri saat ini. Sebagian ulama menjelaskan bahwa kata Bakkah berkaitan dengan kondisi lembah yang sempit dan menjadi tempat berkumpulnya manusia dari berbagai penjuru.

Kenapa Lembah Ini Dipilih? Perspektif Geografi dan Riwayat

Secara geografis, Makkah berada di sebuah lembah yang dikelilingi pegunungan berbatu dan berjarak sekitar 80 kilometer dari pesisir Laut Merah. Berbeda dengan banyak kota besar lainnya, kawasan ini tidak memiliki sungai besar maupun lahan yang subur untuk pertanian. Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya mencatat bahwa kondisi geografis seperti ini justru menghasilkan karakter manusia yang tangguh, adaptif, dan memiliki naluri dagang yang kuat — sebuah kerangka yang kelak membentuk watak suku Quraisy sebagai penjaga dan penguasa kota ini.

Meski demikian, letak geografis tersebut justru membentuk kehidupan masyarakatnya sejak masa lampau. Dalam Muqaddimah, Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa lingkungan yang keras sering kali melahirkan masyarakat yang tangguh dan mandiri. Karakter inilah yang kemudian banyak dikaitkan dengan masyarakat Arab, termasuk suku Quraisy yang dikenal sebagai penjaga Kakbah dan memiliki peran penting dalam perkembangan Kota Makkah.

Dalam perjalanan sejarah Kota Makkah, keistimewaan kota ini tidak lahir karena kekayaan alam yang melimpah. Sebaliknya, Makkah berkembang menjadi kota yang memiliki pengaruh besar berkat kedudukannya sebagai pusat ibadah dan tempat berkumpulnya masyarakat dari berbagai wilayah.

Nabi Ibrahim dan Fondasi Kakbah

Bagi umat Muslim, kisah Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar, dan Nabi Ismail AS menjadi salah satu bagian yang tidak bisa dilewatkan dalam sejarah kota Makkah. Dari keluarga inilah bermula berbagai peristiwa penting yang kemudian membentuk Makkah sebagai kota suci bagi umat Muslim.

Banyak tempat yang hari ini menjadi bagian dari rangkaian ibadah umroh dan haji memiliki keterkaitan erat dengan kisah Nabi Ibrahim dan Siti Hajar. Mulai dari sumur Zamzam, bukit Safa dan Marwah, hingga Kakbah yang menjadi pusat ibadah umat Islam di seluruh dunia.

Peristiwa-peristiwa tersebut tidak hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi juga terus dikenang dan dihidupkan melalui ibadah yang dijalankan jutaan Muslim setiap tahunnya. Jejak kisahnya masih dapat Kawan Alsha temukan di berbagai lokasi yang menjadi bagian dari rangkaian ibadah umroh maupun haji hingga hari ini.

Perjalanan Hajar dan Ismail — Awal Mula Kehidupan di Makkah

Awal mula kehidupan di Makkah berkaitan erat dengan kisah Siti Hajar dan Nabi Ismail AS. Atas perintah Allah SWT, Nabi Ibrahim AS meninggalkan istri dan putranya tersebut di sebuah lembah yang saat itu belum dihuni oleh siapa pun.

Dalam al-Bidayah wa al-Nihayah, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa setelah Siti Hajar dan Nabi Ismail AS berada di lembah itu, datang sekelompok orang dari suku Jurhum yang kemudian menetap di sekitarnya.

فَلَمَّا اسْتَقَرَّتْ بِهَا الدَّارُ، جَاءَتْ طَائِفَةٌ مِنْ جُرْهُمٍ فَنَزَلُوا قَرِيبًا مِنْهَا

Falammā istaqarrat biha al-dār, jā’at thā’ifatun min Jurhum fanazalū qarīban minhā

“Ketika mereka telah menetap di sana, datanglah sekelompok orang dari suku Jurhum dan mereka bermukim di dekatnya.”

— Ibn Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, Jilid 1, hlm. 167–172

Kedatangan suku Jurhum berkaitan dengan munculnya sumber air Zamzam yang menjadi titik awal kehidupan di lembah tersebut. Keberadaan air inilah yang menarik perhatian mereka untuk singgah dan menetap di kawasan yang sebelumnya tidak berpenghuni. Dari sinilah Makkah mulai dihuni dan berkembang secara bertahap, dari sebuah lembah yang sunyi menjadi kota suci yang setiap tahun didatangi jutaan umat Muslim dari berbagai penjuru dunia.

Nabi Ibrahim Membangun Kakbah — Peristiwa yang Mengubah Sejarah

Ketika Nabi Ismail AS tumbuh dewasa, Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk mendirikan sebuah rumah ibadah di tengah lembah tersebut. Bersama sang putra, Nabi Ibrahim AS membangun struktur Kakbah yang di kemudian hari menjadi kiblat utama bagi seluruh umat Islam di dunia hingga detik ini.

Dalam prosesnya, Nabi Ibrahim AS memanjatkan doa yang diabadikan dalam Al-Qur’an:

رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ

Rabbanā innī askantu min dzurriyyatī bi wādin ghayri dzī zar’in

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak ada tanamannya.” (QS. Ibrahim: 37)

Melalui ayat tersebut, Kawan Alsha dapat melihat sejarah kota Makkah dimana saat itu lembah berdirinya tempat suci masih jauh dari gambaran kota yang dikenal sekarang. Nabi Ibrahim AS kemudian berdoa agar hati manusia diberikan keyakinan untuk datang ke tempat tersebut. Atas izin Allah SWT, doa itu dijabah yang hingga hari ini, jutaan umat Muslim terus berdatangan ke Makkah untuk beribadah umroh dan haji. Tidak heran jika banyak ulama juga menjelaskan berbagai keutamaan umroh sebagai salah satu ibadah yang memiliki kedudukan istimewa bagi umat Islam.

Sejarawan Al-Azraqi dalam Akhbar Makkah wa Ma Ja’a Fiha min al-Atsar yakni kitab tertua yang khusus membahas sejarah kota Makkah turut mendokumentasikan detail pembangunan Kakbah, termasuk ukuran, material batu, dan berbagai renovasi yang terjadi setelahnya.

infografis timeline sejarah pembangunan kakbah
Kakbah dari masa ke masa: dari batu sederhana hingga bangunan megah yang dinaungi Masjidil Haram.

Sumur Zamzam — Air yang Menghidupkan Kota

Dalam perjalanan sejarah Kota Makkah, keberadaan air Zamzam menjadi salah satu peristiwa yang paling penting. Sebab umumnya, sebuah wilayah pemukiman sulit bertahan tanpa adanya ketersediaan air bersih. Terutama kota Makkah, yang secara geografis merupakan salah satu lembah paling kering di kawasan Arabia. Kemunculan Zamzam inilah yang secara nyata menjadi awal kehidupan Kota Makkah yang berkembang pesat menjadi area perkotaan yang terorganisir.

Mukjizat Air di Tengah Gurun — Riwayat Hajar dan Sumur Zamzam

Kisah Zamzam bermula ketika Siti Hajar berusaha mencari air untuk putranya, Nabi Ismail AS. Dalam kondisi yang sulit, beliau berlari bolak-balik antara Bukit Safa dan Marwah sebanyak tujuh kali untuk mencari pertolongan. Shahih al-Bukhari meriwayatkan:

فَانْطَلَقَتْ تَسْعَى بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ سَبْعَ مَرَّاتٍ

Fanthalaqa tas’ā bayna al-Shafā wal-Marwati sab’a marrāt

“Maka ia berlari antara Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali.”

— HR. Bukhari No. 3364

Atas izin Allah SWT, kemudian muncul sumber air di dekat Nabi Ismail AS. Air inilah yang dikenal sebagai Zamzam dan terus mengalir hingga hari ini. Adapun kisah ini jugalah yang menjadi latar belakang ibadah sa’i yang dijalankan saat tata cara umroh dan haji. Di mana setiap langkah antara Safa dan Marwah mengingatkan umat Muslim pada perjuangan Siti Hajar dalam mencari air untuk Nabi Ismail AS.

Zamzam dan Kedatangan Suku Jurhum — Embrio Kota

Kemunculan Zamzam tidak hanya menjadi penyelamat bagi Siti Hajar dan Nabi Ismail AS, tetapi juga menarik perhatian masyarakat yang melintas di kawasan tersebut. Menurut berbagai riwayat, suku Jurhum melihat tanda keberadaan air di lembah itu dan kemudian mendatangi lokasi tersebut.

Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah menjelaskan bahwa Siti Hajar mengizinkan mereka menetap di sekitar Zamzam. Sejak saat itu, Suku Jurhum membawa pengaruh bahasa serta sistem niaga mereka ke dalam lembah. Di kemudian hari, Nabi Ismail AS menikah dengan bagian dari komunitas ini, yang kelak membentuk garis silsilah keturunan mulia hingga lahirnya Rasulullah SAW.

Air zamzam masjidil haram makkah
Air Zamzam — berasal dari sumber air yang, menurut riwayat, muncul lebih dari 4.000 tahun lalu dan masih mengalir hingga hari ini.

Makkah di Era Jahiliyah — Kota Dagang dan Pusat Pagan

Berabad-abad setelah masa Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, kota Makkah berkembang menjadi kota yang ramai dan menjadi salah satu pusat perdagangan penting di Jazirah Arab. Pada masa inilah masyarakat Arab memasuki periode yang dikenal sebagai era jahiliyah (masa kebodohan) yaitu masa sebelum datangnya risalah Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW.

Suku Quraisy dan Dominasi Ekonomi Makkah

Sebelum kedatangan Islam, sejarah Kota Makkah banyak dipengaruhi oleh peran suku Quraisy yang berhasil menjadikan kota ini sebagai pusat perdagangan untuk berbagai suku Arab. Sekitar abad ke-5 Masehi, mereka mulai memegang kendali atas Makkah di bawah kepemimpinan Qushayy bin Kilab, yang memperkuat posisi kota Makkah sebagai pusat aktivitas ekonomi dan pengelola Ka’bah.

Menurut Philip K. Hitti dalam History of the Arabs letak Makkah yang berada di jalur perdagangan antara Yaman dan Syam menjadikannya sebagai salah satu pusat aktivitas ekonomi di Jazirah Arab. Suku Quraisy diketahui mengelola ekspedisi dagang besar setiap tahunnya, termasuk ke Syam pada musim panas atau yang dikenal rihlah al-shayf dan ke Yaman pada musim dingin yang disebut rihlah al-shita’, sebagaimana disebutkan dalam Surah Quraisy.

Selain menjadi pusat perdagangan, Kakbah juga menjadi tempat yang dihormati oleh berbagai suku Arab. Kondisi ini membuat Makkah memiliki pengaruh yang besar, baik dari sisi ekonomi maupun sosial. Bersamaan dengan memahami sejarah kota Makkah, Kawan Alsha yang sedang mempersiapkan keberangkatan juga bisa mempelajari panduan umroh agar lebih siap menjalani setiap perjalanan ibadah nantinya.

360 Berhala di Sekeliling Kakbah

Meski Ka’bah dibangun oleh Nabi Ibrahim AS sebagai tempat ibadah kepada Allah SWT, seiring berjalannya waktu masyarakat Arab mulai menjadikannya sebagai bentuk penyembahan berhala. Ibn Hisyam dalam al-Sirah al-Nabawiyyah mencatat bahwa terdapat sekitar 360 berhala yang ditempatkan di sekitar Ka’bah.

وَكَانَ حَوْلَ الْكَعْبَةِ ثَلَاثُمِائَةٍ وَسِتُّونَ صَنَمًا

Wa kāna hawla al-Ka’bati tsalātsumi’atin wa sittūna shanamanā

“Di sekeliling Kakbah terdapat 360 patung berhala.”

— Ibn Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, Jilid 2, hlm. 412

Kakbah yang semula dibangun sebagai simbol tauhid pun berubah menjadi tempat penyembahan berhala. Peristiwa ini menjadi salah satu fase penting dalam sejarah Kota Makkah sebelum akhirnya Rasulullah SAW mengembalikan fungsi Kakbah sebagai pusat ibadah umat Islam. Jejak peristiwa penting tersebut menjadi bagian dari sejarah kota Makkah yang masih bisa Kawan Alsha nikmati dalam berbagai itinerary umroh saat mengunjungi area Masjidil Haram.

peta makkah era jahiliyah suku quraisy jalur dagang
Makkah sebelum Islam: lembah yang ramai secara ekonomi namun gelap secara kepercayaan.

Lahirnya Islam dan Transformasi Makkah

Tahun 570 Masehi yang dikenal dalam sejarah Islam sebagai Amul Fil (Tahun Gajah) menjadi titik balik penting bagi Kota Makkah. Pada tahun tersebut, lahirlah seorang anak dari keluarga Bani Hasyim, klan terpandang dalam suku Quraisy, yang diberi nama Muhammad.

Kelahiran Nabi Muhammad SAW di Makkah

Kelahiran Nabi Muhammad SAW terjadi tidak lama setelah Peristiwa Gajah, yaitu ketika pasukan Abrahah berusaha menghancurkan Kakbah. Peristiwa tersebut kemudian diabadikan dalam Surah Al-Fil sebagai salah satu tanda kekuasaan Allah SWT dalam melindungi rumah suci-Nya.

Ibn Hisyam dalam al-Sirah al-Nabawiyyah mencatat bahwa Nabi Muhammad SAW lahir beberapa puluh hari setelah peristiwa besar tersebut, di tengah keluarga Abdul Muthalib yakni salah satu keluarga terpandang di Makkah yang memiliki peran penting dalam pengelolaan Ka’bah dan Sumur Zamzam.

Nabi Muhammad SAW lahir dalam keadaan yatim karena ayahnya, Abdullah, telah wafat sebelum beliau dilahirkan. Setelah itu, beliau tumbuh dalam asuhan kakeknya, Abdul Muthalib, lalu pamannya, Abu Thalib. Sejak usia muda, Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai pribadi yang jujur dan amanah sehingga masyarakat Makkah memberinya julukan al-Amin yang artinya yang terpercaya.

Masa-Masa Sulit — Tekanan Quraisy dan Boikot Bani Hasyim

Ketika wahyu pertama turun dan Nabi Muhammad SAW mulai menyampaikan ajaran Islam secara terbuka, situasi kota Makkah berubah menjadi kurang ramah. Para pemuka Quraisy yang selama ini mengandalkan status Ka’bah mulai menunjukkan penolakan sebab merasa posisi ekonomi dan politik mereka terancam secara langsung.

Penolakan tersebut kemudian berkembang menjadi berbagai bentuk tekanan terhadap Nabi Muhammad SAW, keluarga beliau, dan para pengikut Islam. Salah satu peristiwa yang paling dikenal adalah boikot terhadap Bani Hasyim dan Bani Muthallib yang berlangsung di Syi’b Abi Thalib. Ibn Sa’d dalam al-Thabaqat al-Kubra mencatat berbagai kesulitan yang dialami kaum Muslim pada masa isolasi tersebut (tersedia di Maktabah Syamilah Online).

Melalui berbagai ujian dan pengorbanan yang dihadapi Rasulullah SAW serta para sahabatnya itulah yang kemudian menjadi dasar dari sejarah Kota Makkah. Wilayah yang kini menjadi tujuan jutaan umat Muslim pernah menjadi tempat berlangsungnya berbagai perjuangan Rasulullah SAW dalam menyebarkan ajaran Islam. Memahami kisah tersebut dapat membantu Kawan Alsha melihat Makkah dari sudut pandang yang lebih utuh saat berkunjung ke Tanah Suci nanti. Sementara itu, ketentuan mengenai siapa saja yang diizinkan memasuki kota ini berkaitan dengan syarat umroh yang berlaku hingga hari ini.

Fathul Makkah — Puncak dari Semua Sejarah

Peristiwa Fathul Makkah menjadi babak penentu dalam sejarah peradaban Islam. Jika sejarah Makkah adalah sebuah narasi panjang, maka Fathul Makkah adalah klimaksnya. Setelah bertahun-tahun menghadapi penolakan, pengusiran, serta berbagai tekanan dari kaum Quraisy, Rasulullah SAW dan kaum Muslim kembali memasuki kota Makkah.

20 Ramadan 8 H — Hari Makkah Berubah Selamanya

Pada 20 Ramadan tahun 8 Hijriah (sekitar Januari 630 Masehi), Nabi Muhammad SAW memimpin sekitar 10.000 kaum Muslim memasuki Kota Makkah. Peristiwa ini berlangsung dengan relatif damai dan menjadi titik penting dalam perkembangan Islam di Jazirah Arab.

Setelah memasuki Masjidil Haram, Rasulullah SAW membersihkan Kakbah dari berbagai berhala yang sebelumnya ditempatkan di sekelilingnya. Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa beliau membaca firman Allah SWT:

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

Wa qul jā’a al-haqqu wa zahaqal-bāthilu, inna al-bāthila kāna zahūqā

“Dan katakanlah: kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap; sungguh kebatilan itu pasti lenyap.” (QS. Al-Isra: 81)

— Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Jilid 5, hlm. 93 (Kitab al-Maghazi)

Praktik penyembahan berhala di sekitar Ka’bah pun berakhir dan Ka’bah kembali sebagai pusat ibadah kepada Allah SWT. Sejak saat itu, Makkah memasuki babak baru sebagai kota yang menjadi pusat perkembangan Islam.

Kawan Alsha, memahami sejarah ini dapat menjadi pelengkap dalam persiapan umroh yang sesungguhnya sebelum kamu berangkat menuju Tanah Suci.

Makkah Setelah Fathul Makkah — Kota yang Disucikan

Setelah momentum pembebasan selesai, Nabi Muhammad SAW mengumumkan beberapa perubahan dari tata laksana Kota Makkah secara permanen. Salah satu yang paling krusial dalam sejarah kota Makkah adalah penetapan Makkah sebagai al-Balad al-Haram yaitu kota yang dimuliakan serta dijaga kehormatannya, dan bahwa hanya umat Muslim yang boleh memasukinya. Al-Waqidi dalam al-Maghazi juga mencatat berbagai kebijakan yang diterapkan Rasulullah SAW setelah Fathul Makkah, termasuk pengaturan pengelolaan Masjidil Haram dan kehidupan masyarakat di kota tersebut.

masjidil haram modern makkah pegunungan
Masjidil Haram hari ini — berdiri di atas lahan yang menyimpan 4.000 tahun sejarah umat manusia.

Sejarah Masjidil Haram — Dari Fondasi Sederhana ke Kompleks Terbesar Dunia

Masjidil Haram yang Kawan Alsha dan jutaan umat Muslim lihat hari ini adalah bukti nyata dari proses renovasi dan perluasan struktural selama lebih dari empat belas abad. Perkembangan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah Kota Makkah, karena mencerminkan perubahan kota suci ini dari masa Rasulullah SAW hingga era modern.

Renovasi Masjidil Haram Lintas Zaman

Al-Azraqi dalam Akhbar Makkah wa Ma Ja’a Fiha min al-Atsar yakni kitab yang menjadi rujukan utama untuk sejarah fisik Makkah, mendokumentasikan setiap perluasan dan renovasi dari era awal Islam hingga masa Abbasiyah. Berikut perkembangan Masjidil Haram dari masa ke masa:

Periode Tokoh / Dinasti Perluasan / Renovasi Utama
Abad 7 M Nabi Muhammad SAW Penghapusan berhala, penetapan kiblat, pembersihan Kakbah
638 M Umar ibn Khattab RA Perluasan pertama untuk menampung jamaah yang terus bertambah
647 M Utsman ibn Affan RA Penambahan sayap baru dan penggunaan tiang batu
Abad 8–9 M Bani Umayyah & Abbasiyah Penambahan menara, galeri bertutup, dan perluasan signifikan
Abad 16 M Kesultanan Ottoman Pembangunan kubah-kubah kecil dan renovasi menyeluruh
1955–sekarang Pemerintah Arab Saudi Ekspansi besar-besaran; kini mampu menampung lebih dari 2 juta jamaah

Ekspansi pada era modern menjadi salah satu tahap terbesar dalam perkembangan Masjidil Haram. Area yang pada masa Rasulullah SAW hanya mampu menampung jemaah dalam jumlah terbatas kini telah berkembang menjadi kompleks ibadah dengan daya tampung jutaan umat Muslim. Perkembangan ini juga membuat semakin banyak jemaah memiliki kesempatan untuk beribadah di Tanah Suci setiap tahunnya. Bagi Kawan Alsha yang sedang merencanakan keberangkatan, memahami berbagai pilihan biaya umroh dapat menjadi langkah awal untuk mempersiapkan perjalanan ke Makkah.

timeline kapasitas masjidil haram dari abad 7 hingga modern
Dari beberapa ratus jamaah di era Nabi Muhammad SAW hingga 2 juta jamaah hari ini — perjalanan panjang sebuah masjid.

Makkah Hari Ini — Kota yang Masih Bicara

Sejarah Kota Makkah mencakup perjalanan yang sangat panjang, mulai dari lembah yang belum berpenghuni, kemunculan Sumur Zamzam, pembangunan Kakbah oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, hingga perkembangan Islam pada masa Rasulullah SAW. Berbagai peristiwa penting yang membentuk peradaban Islam terjadi di kota ini dan masih menjadi bagian dari kehidupan umat Muslim hingga saat ini.

Hingga hari ini, umat Muslim dari berbagai penjuru dunia masih memiliki kesempatan untuk mengunjungi Makkah dan menyaksikan langsung tempat-tempat yang menjadi bagian dari perjalanan panjang sejarah Islam. Namun sebelum Kawan Alsha merencanakan keberangkatan, memahami waktu ideal umroh bisa menjadi pertimbangan yang membantu kamu memilih momen ibadah paling tepat.

Kalau kamu sedang merencanakan umroh, Alsha Tours menyediakan program dengan pendampingan penuh — mulai dari manasik hingga pendampingan langsung di lapangan. Kami terdaftar resmi sebagai travel umroh dengan Akreditasi A dari Kemenag, sehingga kamu tidak perlu khawatir soal legalitas maupun kualitas pelayanan.


Bibliografi

Sumber Primer — Kitab Mu’tabar Ulama Klasik

  1. al-Azraqi, Abu al-Walid Muhammad ibn Abdullah. Akhbar Makkah wa Ma Ja’a Fiha min al-Atsar. Makkah: Maktabah al-Tsaqafah, 1994. Jilid 1, hlm. 55–250; Jilid 2, hlm. 1–50.
  2. al-Bukhari, Muhammad ibn Ismail. Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Katsir, 2002. Jilid 4, hlm. 135 (Kitab al-Anbiya’, Bab Qissatu Ibrahim); Jilid 5, hlm. 93 (Kitab al-Maghazi).
  3. al-Thabari, Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir. Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Quran. Kairo: Dar Hijr, 2001. Jilid 6, hlm. 470–481.
  4. al-Thabari, Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir. Tarikh al-Rusul wa al-Muluk (Tarikh al-Thabari). Beirut: Dar al-Turats, 1967. Jilid 1, hlm. 243–265.
  5. al-Waqidi, Muhammad ibn Umar. al-Maghazi. Beirut: Alam al-Kutub, 1984. Jilid 2, hlm. 818–832.
  6. Ibn Hisyam, Abdul Malik. al-Sirah al-Nabawiyyah. Kairo: Dar al-Taufiqiyyah, 2008. Jilid 1, hlm. 155–162; Jilid 2, hlm. 412.
  7. Ibn Katsir, Ismail ibn Umar. al-Bidayah wa al-Nihayah. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2010. Jilid 1, hlm. 167–180.
  8. Ibn Katsir, Ismail ibn Umar. Tafsir al-Quran al-‘Azhim. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1999. Jilid 2, hlm. 35–40 (tafsir QS. Ali Imran: 96).
  9. Ibn Khaldun, Abdurrahman. Muqaddimah. Beirut: Dar al-Fikr, 2001. hlm. 98–103.
  10. Ibn Sa’d, Muhammad. al-Thabaqat al-Kubra. Beirut: Dar Sadir, 1968. Jilid 1, hlm. 207–214.

Sumber Kontemporer

  1. Hitti, Philip K. History of the Arabs. London: Macmillan, 2002. hlm. 87–95. Tersedia online: https://archive.org/details/historyofarabs0000hitt
  2. Saudi Gazette — Arsip renovasi Masjidil Haram modern: https://www.saudigazette.com.sa

Alsha Tours Solo

Alsha Tours Lampung