Rukun Umroh: Urutan, Tata Cara, dan Dalilnya agar Ibadah Sah

Rukun Umroh - Urutan, Tata Cara dan Dalil Shahih | Alsha Tours & Travel

Malam sebelum terbang ke Tanah Suci, koper sudah ditimbang dua kali dan paspor sudah dicek berulang. Tapi ada satu pertanyaan yang mengganjal di kepala: kalau nanti kamu keliru urutan, apakah umrohmu tetap sah? Hampir semua jamaah yang berangkat untuk pertama kali merasakan kegelisahan yang sama.

Jawabannya ada pada pemahaman rukun umroh, lima amalan pokok yang menentukan sah tidaknya ibadahmu. Artikel ini menguraikannya satu per satu beserta dalil dari kitab ulama empat madzhab, agar kamu melangkah ke Tanah Suci dengan hati yang lapang dan semakin memahami keutamaan umroh yang menantimu di sana.

Apa Itu Rukun Umroh dan Mengapa Menentukan Sah Ibadah

Rukun umroh adalah amalan pokok yang wajib dikerjakan dalam ibadah umroh; jika salah satunya ditinggalkan, umrohmu dianggap tidak sah dan tidak bisa digantikan dengan dam. Secara bahasa, kata rukun berasal dari ar-ruknu, yang berarti pilar atau penopang utama sebuah bangunan.

Dalam istilah fiqih, rukun adalah bagian inti yang berada di dalam pelaksanaan ibadah itu sendiri dan menentukan keabsahannya. Ini berbeda dengan syarat umroh, yang justru harus dipenuhi sebelum ibadah dimulai, seperti beragama Islam, balig, berakal sehat, dan mampu secara fisik maupun bekal. Rukun menentukan sah tidaknya ibadah saat dikerjakan, sementara syarat menentukan boleh tidaknya seseorang memulai ibadah tersebut. Karena keduanya sering tertukar, memahami batas antara rukun dan syarat sejak awal akan membuatmu lebih tenang menjalani seluruh rangkaian ibadah nanti.

Rukun Umroh Ada Berapa? Pandangan Ulama 4 Madzhab

Rukun umroh ada berapa? Menurut madzhab Syafi’i, yang paling banyak diikuti jamaah Indonesia, jumlahnya ada lima: ihram, tawaf, sa’i, tahallul, dan tertib.

Madzhab lain punya cara menghitung yang sedikit berbeda. Hanafi menempatkan tawaf sebagai satu-satunya rukun utama; ihram dianggap syarat, sementara sa’i, tahallul, dan tertib berstatus wajib. Maliki menghitung ihram, tawaf, dan sa’i sebagai rukun, dengan tahallul dan tertib berstatus wajib. Hanbali sejalan dengan Syafi’i, menetapkan kelima amalan itu sebagai rukun.

Perbedaan angka ini bukan tanda ketidaksepakatan, melainkan cara pandang fiqih yang berbeda dalam mendudukkan tahallul dan tertib. Seperti dijelaskan dalam kajian fikih di NU Online, sebagian ulama menyebut tiga rukun, sebagian empat, dan sebagian lain lima, tergantung bagaimana kedudukan mencukur rambut dan urutan amalan ditempatkan. Kabar baiknya, seluruh madzhab sepakat bahwa ihram, tawaf, dan sa’i tidak boleh ditinggalkan sama sekali. Karena itu, urutan rukun umroh yang benar tetap aman diikuti jamaah dari madzhab mana pun.

Ketetapan lima rukun ini bisa ditelusuri dalam kitab manasik klasik. Sayyid Utsman bin Yahya, ulama Betawi abad ke-19 yang menjadi salah satu rujukan fiqih Syafi’iyah di Nusantara, menuliskannya secara ringkas dalam kitab manasiknya:

الْأَوَّلُ الْإِحْرَامُ وَالثَّانِي الطَّوَافُ وَالثَّالِثُ السَّعْيُ وَالرَّابِعُ الْحَلْقُ وَالْخَامِسُ التَّرْتِيبُ فِي جَمِيعِ أَرْكَانِهَا

al-awwalul-iḥrām wats-tsānits-ṭawāf wats-tsālitsus-sa’yu war-rābi’ul-ḥalqu wal-khāmisut-tartību fī jamī’i arkānihā

Artinya: “(Rukun umroh ada lima) pertama ihram, kedua tawaf, ketiga sa’i, keempat mencukur rambut, dan kelima tertib dalam seluruh rukunnya.”

Sayyid Utsman bin Yahya, Manasik Haji dan Umrah [Jakarta: Alaidrus, tanpa tahun], hlm. 14–15.

Ulama kontemporer seperti Syaikh Wahbah az-Zuhaili turut merangkum perbandingan pandangan madzhab ini dalam kitab al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, karya yang banyak dipakai sebagai rujukan fiqih perbandingan di berbagai pesantren dan perguruan tinggi Islam.

Tabel perbandingan rukun umroh menurut empat madzhab: Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali

Perbandingan kedudukan amalan umroh menurut ulama empat madzhab. Seluruh madzhab sepakat ihram, tawaf, dan sa’i tidak boleh ditinggalkan.

Perbedaan Rukun, Wajib, dan Sunnah dalam Umroh

Selain rukun, ada dua tingkatan amalan lain dalam umroh, yaitu wajib dan sunnah, dan konsekuensi ketiganya jauh berbeda.

Rukun yang ditinggalkan membuat umroh tidak sah, dan ibadah baru dianggap selesai setelah rukun itu benar-benar ditunaikan. Wajib umroh berbeda; jika ditinggalkan, umrohmu tetap sah, tetapi kamu wajib membayar dam, yaitu menyembelih seekor kambing yang dagingnya disedekahkan kepada fakir miskin di Makkah. Sementara sunnah, bila tidak dikerjakan, sama sekali tidak berdampak pada keabsahan ibadah.

Menurut Syafi’iyah, ada dua wajib umroh yang perlu kamu ingat: berihram dari miqat yang telah ditentukan, dan menjauhi seluruh larangan ihram selama masih dalam keadaan berihram.

Supaya lebih mudah dipahami, berikut perbandingannya:

Tingkatan Konsekuensi Jika Ditinggalkan
Rukun Umroh tidak sah; harus diulang atau ditunaikan hingga selesai
Wajib Umroh tetap sah, tetapi wajib membayar dam
Sunnah Tidak berdampak pada keabsahan umroh

5 Rukun Umroh dan Tata Cara Pelaksanaannya

Urutan rukun umroh dikerjakan secara berurutan, dari niat di miqat hingga mencukur rambut. Kalau kamu ingin memahami rangkaian lengkap sejak keberangkatan, tata cara umroh sesuai sunnah bisa membantumu mempersiapkan setiap tahapnya secara teknis.

Infografis urutan lima rukun umroh: ihram, tawaf, sa'i, tahallul, dan tertib

Urutan lima rukun umroh yang dikerjakan berurutan, dari niat ihram di miqat hingga tahallul.

Ihram: Niat Umroh dari Miqat

Ihram adalah niat memasuki ibadah umroh, diucapkan di miqat, yaitu titik atau batas yang telah ditentukan syariat sebagai awal mula berihram. Begitu niat umroh diucapkan, jamaah dianjurkan melafalkan talbiyah, dan seluruh larangan ihram mulai berlaku sampai tahallul.

Lafadz niat yang umum dibaca:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ عُمْرَةً

labbaika allāhumma ‘umratan

Artinya: “Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah untuk berumroh.”

Setelah niat, ada beberapa larangan ihram yang wajib kamu jauhi:

  • Memakai wewangian di badan maupun pakaian ihram
  • Memotong kuku atau mencukur rambut
  • Menutup kepala secara langsung bagi laki-laki
  • Melangsungkan akad nikah, baik untuk diri sendiri maupun menjadi wali
  • Berhubungan suami istri

Pentingnya niat ini juga ditegaskan dalam hadits yang masyhur:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

innamal-a’mālu bin-niyyāt

Artinya: “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.”

Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari [Beirut: Dar Thauq an-Najah, 2002], juz 1, hlm. 6, no. 1; Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, no. 1907.

Untuk memahami makna ihram secara lebih menyeluruh, kamu bisa membaca pengertian ihram yang membahas hikmah dan ketentuannya secara lebih detail. Bagi kamu yang berangkat bersama pasangan, ada sejumlah ketentuan khusus soal larangan ihram yang perlu diperhatikan berdua, termasuk yang dibahas dalam tata cara umroh perempuan bersama pasangan.

Tawaf: Mengelilingi Ka’bah Tujuh Putaran

Tawaf umroh adalah mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran, dimulai dan diakhiri di titik sejajar Hajar Aswad, berlawanan arah jarum jam, dengan Ka’bah selalu berada di sisi kirimu. Tawaf wajib dilakukan dalam keadaan suci dari hadas.

Bagi jamaah perempuan yang sedang haid, tawaf ditunda sampai suci kembali; penjelasan lebih lengkap soal penyesuaian rangkaian ibadahnya bisa kamu baca di bagian tanya jawab menjelang akhir artikel ini.

Ketentuan tawaf disebutkan dalam Al-Qur’an:

ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

tsumma liyaqḍū tafatsahum wa liyūfū nużūrahum wa liyaṭṭawwafū bil-baitil-‘atīq

Artinya: “Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada di badan mereka, menyempurnakan nazar-nazar mereka, dan melakukan tawaf sekeliling rumah tua (Baitullah).”

Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, QS al-Hajj (22): 29.

Terjemah ayat ini dapat kamu telusuri lebih lanjut pada laman resmi Al-Qur’an Kementerian Agama, yang menjadi salah satu dasar utama kewajiban tawaf dalam manasik umroh.

Setelah tawaf, ada satu sunnah yang dianjurkan: shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim. Ingat, ini sunnah, bukan rukun, jadi tidak membatalkan umrohmu bila terlewat.

Sa’i: Tujuh Kali Lintasan Shafa–Marwah

Sa’i umroh adalah berjalan atau berlari kecil sebanyak tujuh kali antara bukit Shafa dan Marwah, dimulai dari Shafa dan berakhir di Marwah. Satu lintasan dihitung satu kali, sehingga dari Shafa ke Marwah dan kembali ke Shafa sudah terhitung dua lintasan. Laki-laki dianjurkan berlari kecil di area yang ditandai lampu hijau.

Di balik gerakan ini, ada makna yang menyentuh: sa’i meneladani kegigihan Sayyidah Hajar mencari air untuk putranya, Nabi Ismail, di tengah padang tandus.

Dalilnya termaktub dalam Al-Qur’an:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا

innash-shafā wal-marwata min sya’ā’irillāh, faman ḥajjal-baita awi’tamara falā junāḥa ‘alaihi ay yaṭṭawwafa bihimā

Artinya: “Sesungguhnya Safa dan Marwah merupakan sebagian syiar (agama) Allah. Maka, siapa beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan sai antara keduanya.”

Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, QS al-Baqarah (2): 158.

Kalimat “tidak ada dosa” pada ayat ini turun untuk menenteramkan hati sebagian sahabat yang semula ragu melakukan sa’i, karena menganggapnya bagian dari kebiasaan masa jahiliah. Ayat ini menegaskan sa’i tetap wajib dikerjakan, bukan sekadar amalan pilihan.

Tahallul: Mencukur atau Memotong Rambut

Tahallul menandai berakhirnya seluruh larangan ihram. Ada dua caranya: halq, yaitu mencukur habis rambut kepala, dan taqsir, yaitu memendekkannya. Halq lebih utama bagi laki-laki, sementara perempuan cukup memotong rambut sepanjang satu ruas jari.

Menurut Syafi’iyah, batas minimal tahallul adalah menghilangkan tiga helai rambut. Ulama madzhab Hanbali dalam kitab-kitab fiqih klasik, termasuk al-Mughni karya Ibn Qudamah, juga membahas ketentuan serupa soal batas minimal pemotongan ini sebagai bentuk kehati-hatian menjaga keabsahan ibadah.

Tertib: Menjaga Urutan dari Awal sampai Akhir

Tertib dalam rukun umroh berarti menjaga urutan pelaksanaan dari awal hingga akhir: ihram, tawaf, sa’i, kemudian tahallul, tidak boleh dibalik.

Contohnya, kalau kamu melakukan sa’i sebelum tawaf, sa’i itu tidak dihitung sah dan harus diulang setelah tawaf selesai. Menjaga tertib inilah yang membuat kelima rukun berfungsi sebagai satu kesatuan ibadah yang utuh.

Bagaimana Jika Ada Rukun Umroh yang Tertinggal?

Ini salah satu kegelisahan yang paling sering muncul: bagaimana jika ada rukun umroh yang tertinggal?

Rukun umroh tidak sah bila tertinggal, dan tidak bisa ditebus dengan dam. Ibadahmu belum dianggap selesai sampai rukun tersebut benar-benar ditunaikan. Kalau kamu belum tawaf atau sa’i, kamu harus kembali mengerjakannya. Kalau belum tahallul, larangan ihram masih berlaku sampai kamu menuntaskannya.

Ini berbeda dengan wajib umroh yang tertinggal; ibadah tetap sah, tapi kamu perlu membayar dam sebagai penggantinya.

Supaya risiko rukun tertinggal ini bisa diminimalkan, ikuti manasik dengan saksama dan pastikan kamu didampingi muthawwif yang berpengalaman selama di Tanah Suci. Persiapan yang matang sebelum berangkat, termasuk memahami tahapan persiapan umroh secara menyeluruh, akan membuatmu jauh lebih tenang saat menjalankan setiap rukun satu per satu.

Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Menjalankan Rukun Umroh

Berikut lima kesalahan yang paling sering dialami jamaah, beserta cara mencegahnya:

  1. Berniat ihram setelah melewati miqat. Niat harus diucapkan sebelum atau tepat di miqat; kalau sampai lupa, segera niat begitu ingat dan konsultasikan kondisimu ke pembimbing.
  2. Ragu atau kurang hitungan putaran tawaf. Gunakan penanda hitungan atau berjalan berdekatan dengan pembimbing agar hitungan putaran tetap akurat.
  3. Memulai sa’i dari Marwah. Sa’i sah hanya jika dimulai dari Shafa; kalau terbalik, ulangi dari awal.
  4. Menunda tahallul karena mengira boleh dilakukan kapan saja. Segera lakukan tahallul setelah sa’i selesai agar larangan ihram tidak berkepanjangan.
  5. Menganggap shalat di Maqam Ibrahim bagian dari rukun. Shalat ini sunnah; tawaf tetap sah meski shalat ini terlewat.

Kesalahan-kesalahan ini sebenarnya bisa dihindari dengan bimbingan yang tepat sejak sebelum berangkat. Kalau kamu ingin memastikan seluruh tahapan berjalan sesuai tuntunan, panduan umroh dari Alsha bisa jadi acuan tambahan. Dengan dukungan pembimbing berpengalaman dan Akreditasi A dari Kementerian Agama, kamu bisa menjalankan setiap rukun dengan lebih tenang.

Tanya Jawab Seputar Rukun Umroh

Apa perbedaan rukun umroh dan rukun haji?
Bedanya ada pada wukuf di Arafah. Rukun haji mencakup wukuf, sedangkan rukun umroh tidak, karena umroh tidak memiliki rangkaian wukuf sama sekali.

Apakah umroh sah jika urutannya terbalik?
Tidak. Tertib adalah rukun kelima, sehingga urutan ihram, tawaf, sa’i, dan tahallul wajib dijaga. Rukun yang dikerjakan di luar urutan dianggap tidak sah dan harus diulang pada posisi yang benar.

Berapa helai rambut minimal saat tahallul?
Menurut Syafi’iyah, batas minimalnya adalah tiga helai rambut, baik dengan cara mencukur habis maupun memendekkan.

Apakah anak-anak yang ikut umroh terikat rukun yang sama?
Anak yang sudah mumayyiz tetap menjalankan rukun yang sama seperti jamaah dewasa, meski dengan pendampingan lebih. Untuk anak yang belum mumayyiz, wali bisa membantu meniatkan dan membimbing gerakannya.

Bagaimana jamaah perempuan yang haid menjalankan rukun tawaf?
Tawaf ditunda sampai suci kembali, karena tawaf mensyaratkan kesucian dari hadas. Rangkaian rukun lain seperti sa’i dan tahallul menyesuaikan setelah tawaf selesai dikerjakan.

Penutup: Tunaikan Rukun Umroh dengan Hati yang Tenang

Lima rukun umroh, ihram, tawaf, sa’i, tahallul, dan tertib, adalah amalan pokok yang menentukan sah tidaknya ibadahmu. Begitu kelimanya dipahami dan dikerjakan sesuai urutan, kegelisahan yang mungkin masih tersisa di malam sebelum keberangkatan perlahan berganti menjadi ketenangan, membuka jalan menuju umroh mabrur yang kamu harapkan.

Kalau kamu ingin menunaikan kelima rukun ini dengan dampingan pembimbing yang memahami fiqih empat madzhab, Alsha, travel umroh dengan Akreditasi A dari Kementerian Agama, siap menemanimu sejak manasik hingga kembali ke Tanah Air.

Alsha Tours Solo

Alsha Tours Lampung