Bacaan Doa Tawaf Wada Sesuai Sunnah: Arab, Latin, dan Artinya

Bacaan Doa Tawaf Wada Sesuai Sunnah | Alsha Tours & Travel

Kaki terasa berat saat kamu melangkah keluar dari pelataran Masjidil Haram. Kamu menoleh sekali lagi ke arah Ka’bah, menyimpan pandangan itu sedalam-dalamnya, lalu muncul satu pertanyaan kecil yang menggantung di dada: sebenarnya, apa yang harus kubaca saat tawaf terakhir ini?

Pertanyaan itu wajar. Banyak jamaah datang membawa contekan “doa tawaf wada per putaran” yang tidak jelas sumbernya, lalu diam-diam cemas kalau-kalau salah baca. Kabar baiknya, bacaan tawaf wada jauh lebih ringan daripada yang kamu kira. Mari kita luruskan pelan-pelan.

Bacaan Tawaf Wada Lengkap: Dua Cara yang Sama-Sama Sah

Sebelum masuk ke bacaannya, satu hal perlu kamu pegang lebih dulu. Tawaf wada adalah tawaf perpisahan, yaitu tujuh putaran mengelilingi Ka’bah yang dikerjakan tepat sebelum kamu meninggalkan Makkah. Ia menjadi perjumpaan terakhir dengan Baitullah sebelum kembali ke tanah air.

Lalu, apa doa tawaf wada yang benar? Inilah inti jawabannya: tidak ada satu doa wajib khusus untuk tawaf wada. Ada dua cara yang biasa dipakai jamaah. Pertama, mengikuti contoh ringkas Nabi ﷺ. Kedua, memakai rangkaian doa per putaran yang disusun para ulama. Keduanya sah. Silakan pilih yang paling menenangkan hatimu dan membuatmu khusyuk. Di bawah ini kami sajikan keduanya berurutan, lengkap dengan teks Arab, latin, arti, dan sumbernya.

Cara 1 — Mengikuti Contoh Nabi ﷺ (Ringkas dan Minim Hafalan)

Cara ini cocok untuk pemula atau kamu yang mudah gugup. Hanya ada tiga titik bacaan; selebihnya kamu bebas berdzikir dan berdoa dengan bahasamu sendiri.

a. Takbir saat sejajar Hajar Aswad (tiap awal putaran)

بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ

Latin: Bismillāhi wallāhu akbar

Arti: Dengan (menyebut) nama Allah, dan Allah Maha Besar.

Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, [Beirut: Dar Tuq an-Najah, 2001 M], jilid 2, no. hadits 1613.

Yang paling kuat riwayatnya adalah takbir “Allahu akbar” saat mengusap atau memberi isyarat ke Hajar Aswad. Tambahan lafal “Bismillah” bersumber dari atsar Ibnu Umar dan boleh kamu pakai.

b. Doa di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Latin: Rabbanā ātinā fid-dunyā hasanah wa fil-ākhirati hasanah wa qinā ‘adzāban-nār

Arti: Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.

Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’ats as-Sijistani, Sunan Abi Dawud, [Beirut: al-Maktabah al-‘Ashriyah], jilid 2, no. hadits 1892 (dari Abdullah bin as-Sa’ib; dinilai hasan oleh al-Albani); lihat pula QS al-Baqarah: 201.

c. Dzikir dan doa bebas sepanjang putaran

سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ

Latin: Subhānallāhi wal-hamdulillāhi wa lā ilāha illallāhu wallāhu akbar

Arti: Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Allah Maha Besar.

Dasar anjuran memperbanyak dzikir saat tawaf: Taqiyuddin Ibnu Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa, [Madinah: Mujamma’ al-Malik Fahd, 2004 M], jilid 26, hlm. 122.

Selebihnya, hatimu bebas. Kamu boleh berdoa dengan hajat apa pun dan bahasa apa pun — doa untuk dunia dan akhirat, untuk dirimu, keluargamu, juga orang-orang yang menitipkan doa padamu. Tidak ada bacaan yang terlalu sederhana selama datang dari hati yang tulus. Kalau kamu ingin menyiapkan bacaan pendamping, kamu bisa membaca doa umroh mabrur yang bisa kamu lantunkan di sela-sela putaran.

Diagram titik bacaan saat tawaf wada: takbir di Hajar Aswad dan doa Rabbana atina di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad.
Dua titik bacaan yang dicontohkan Nabi ﷺ saat mengelilingi Ka’bah; selebihnya dzikir dan doa bebas.

Cara 2 — Rangkaian Doa Per Putaran Susunan Ulama (Untuk yang Ingin Panduan Lengkap)

Sebagian jamaah lebih tenang bila ada lafal siap baca di tiap putaran. Rasanya seperti punya peta yang menuntun, sehingga tidak bingung harus berkata apa saat mengelilingi Ka’bah. Untuk itu, para ulama menyusun doa yang berbeda-beda pada setiap putaran agar jamaah lebih terarah. Perlu kamu catat: susunan ini boleh diamalkan sebagai pilihan, bukan doa wajib. Dua rujukan yang paling dikenal adalah kitab Al-Idhah fi Manasik al-Hajj wal ‘Umrah karya Imam an-Nawawi dan buku manasik resmi Kementerian Agama. Keduanya dipakai luas oleh pembimbing manasik di Indonesia, sehingga lafalnya bisa kamu pertanggungjawabkan.

a. Doa Pembuka pada Putaran Pertama:

سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَٱ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ. اللَّهُمَّ إِيمَانًا بِكَ وَتَصْدِيقًا بِكِتَابِكَ وَوَفَاءً بِعَهْدِكَ وَاتِّبَاعًا لِسُنَّةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ ﷺ

Latin: Subhānallāhi wal-hamdulillāhi wa lā ilāha illallāhu wallāhu akbar, wa lā haula wa lā quwwata illā billāhil-‘aliyyil-‘azhīm, wash-shalātu was-salāmu ‘alā rasūlillāhi ﷺ. Allāhumma īmānan bika wa tashdīqan bikitābika wa wafā’an bi’ahdika wattibā’an li sunnati nabiyyika Muhammadin ﷺ

Arti: Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Allah Maha Besar; tiada daya dan kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Selawat dan salam atas Rasulullah ﷺ. Ya Allah, (aku bertawaf) karena iman kepada-Mu, membenarkan kitab-Mu, menepati janji-Mu, dan mengikuti sunnah Nabi-Mu Muhammad ﷺ.

Imam an-Nawawi, Al-Idhah fi Manasik al-Hajj wal ‘Umrah (dengan Hasyiyah Ibnu Hajar al-Haitami), [Beirut: Dar al-Fikr, tanpa tahun], hlm. 127; teks lengkap tujuh putaran dirujuk pada Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Doa dan Dzikir Manasik Haji dan Umrah, [Jakarta: Kementerian Agama RI].

b. Bacaan Selama Tawaf Wada’:

إِنَّ الَّذِى فَرَضَ عَلَيْكَ القُرْآنَ لَرَآدُّكَ إِلىَ مَعَادٍ , ياَ مُعِيْدُ أَعْدْنِى ياَ سَمِيْعُ أَسْمِعْنِى ياَجَبَّارُ اجْبُرْنِى ياَ سَتَّارُ اسْتُرْنِى ياَ رَحْمَنُ ارْحَمْنِى ياَ رَدَّادُ ارْدُدْنِى إِلىَ بَيْتِكَ هَذاَ وَارْزُقْنِىَ العَوْدَ ثُمَّ العَوْدَ كَرَّاتٍ بَعْدَ مَرَّاتٍ تاَئِبُوْنَ عاَبِدُوْنَ ساَئِحُوْنَ لِرَبِّناَ حاَمِدُوْنَ , صَدَقَ اللهُ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزاَبَ وَحْدَهُ , أَللَّـهُمَّ احْفَظْنِى عَنْ يَمِيْنِى وَعَنْ يَساَرِى وَمِنْ قُدَّامِى وَمِنْ وَراَءِ ظَهْرِى وَمِنْ فَوْقِى وَمِنْ تَحْتِى حَتَّى تُوَصِّلَنِى إِلىَ أَهْلِى وَبَلَدِى , أَللَّـهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْناَ السَّفَرَ وَاطْوِ لَناَ الأَرْضَ , أَللَّـهُمَّ أَصْحَبْناَ فىِ سَفَرِناَ وَاخْلُفْناَ فىِ أَهْلِناَ ياَ أَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ وَياَ رَبَّ العاَلَمِيْنَ

Latin: Innal-ladzi farada ‘alaikal-qur’ana laradduka ila ma’ad. Ya mu’idu a’idni, ya sami’u asmi’ni, ya rahman irhamni, ya raddad urdudni ila baitika haza warzuqni al-‘auda summal-‘auda karratin ba’da marratin ta’ibuna ‘abiduna sa’ihuna lirabbina hamidun. sadaqallahu wa’dahu wa nasara ‘abdahu wa hazamal-ahzaba wahdah. Allahum mahfazni ‘an yamini, wa ‘an yasari, wa min quddami, wa min wara’i zahri, wa min fauqi, wa min tahti hatta tuwassilani ila ahli wa baladi. Allahumma hawwin ‘alainas-safara wa atwi lanal-ard. Allahumma ashibna fi safarina wakhlufna fi ahlina ya arhamar-rahimina wa ya rabbal-‘alamin.

Arti: Sesungguhnya Tuhan yang menurunkan Al-Qur’an kepadamu niscaya memulangkanmu ke tempat kembali, wahai Tuhan yang Kuasa mengembalikan, kembalikan aku ke tempatku, wahai Tuhan yang Maha Mendengar, dengarlah (kabulkanlah) permohonanku wahai Tuhan Yang Maha Memperbaiki, perbaikilah aku, wahai Tuhan Yang Maha pelindung, tutupilah aibku, wahai Tuhan Yang Maha Kasih Sayang, sayangilah aku, wahai Tuhan Yang Maha Kuasa Mengembalikan, kembalikanlah aku ke Ka’bah ini dan berilah aki rizqi untuk mengulanginya berkali-kali, dalam keadaan bertaubat dan beribadat, berlayar menuju Tuhan kami sambil memuji, Allah Maha menepati janji-Nya, membantu hamba-hamba-Nya, yang menghancurkan sendiri musuh-musuh-Nya. Ya Allah, perilharalah aku dari kanan, kiri, depan dan belakang, dari sebelah atas dan bawah sampai Engkau mengembalikan aku kepada keluarga dan tanah airku. Ya Allah, permudahkanlah perjalanan bagi kami, lipatkan bumi untuk kami. Ya Allah sertailah kami dalam perjalanan, dan gantilah kedudukan kami.

c. Bacaan antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Latin: Rabbanā ātinā fid-dunyā ḥasanah wa fil-ākhirati ḥasanah wa qinā ‘adzāban-nār.

Arti: Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka.

d. Doa Setelah Selesai Tawaf Wada’:

اأَللَّـهُمَّ إِنَّ البَيْتَ بَيْتُكَ وَالعَبْدَ عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَّتِكَ حَمَلْتَنِى عَلَى ماَ سَخَّرْتَ لىِ مِنْ خَلْقِكَ حَتَّى صَيَّرْتنَِى إِلىَ بِلاَدِكَ وَبَلَّغْتَنِى بِنِعْمَتِكَ حَتَّى أَعَنْتَنِى عَلَى قَضاَءِ مَناَسِكَكَ, فَإِنْ كُنْتَ عَنِّى فاَزْدَدْ عَنِّى رِضاً وَإِلاَّ فَمُنَّ الآنَ عَلَيَّ قَبْلَ تَبَاعُدِى عَنْ بَيْتِكَ هَذاَ أَواَنُ انْصِراَفىِ إِنْ أَذِنْتَ لىِ غَيْرَ مُسْتَبْدِلٍ بِكَ وَلاَ بِبَيْتِكَ وَلاَ راَغِبٍ عَنْكَ وَلاَ عَنْ بَيْتِكَ, أَللَّـهُمَّ أَصْحِبْنِى العاَفِيَةَ فىِ بَدَنِى وَالعِصْمَةَ فىِ دِيْنِى وَأَحْسِنْ مُنْقَلَبِى وَارْزُقْنِى طاَعَتَكَ أَبَداً ماَ أَبْقَيْتَنِى وَاجْمَعْ لىِ خَيْرَيِ الدُّنْياَ وَالأَخِرَةِ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Latin: Allahumma innal baita baituka, wal-‘abda ‘abduka wabnu ‘abdika wabnu amatika, hamaltani ‘ala ma sakhkharta li min khal qika, hatta sayyartani ila biladika, wa balagtani bini’matika hatta a’antani ala qada’i manasikik. Fa in kunta radita ‘anni fazdad ‘anni rida, wa illa famunnal-ana ‘alayya qabla taba’udi ‘an baitika haza. Awanunsirafi in azinta li gaira mustabdilin bika wa la bibaitika wa la ragibin ‘anka wa la ‘an baitik. Allahumma ashibniyal ‘afi-yata fi badani, wal-‘ismata fi dini, wa ahsin munqalabi, warzuqni ta’ataka abadan ma abqaitani, wajma’ li khairayid-dun-ya wal-akhirah, innaka ‘ala kulli syai’in qadir. Allahumma la taj’al haza akhiral-‘ahdi bibaitikal-haram, wa in ja’altahu akhiral-‘ahdi fa’awwidni ‘anhul-jannata birahmatika ya arhamar-rahimin. Amin ya rabbal-‘alamin.

Arti: Ya Allah, sesungguhnya rumah ini adalah rumah-Mu, dan aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu laki-laki dan hamba-Mu perempuan. Engkau telah membawaku dengan sarana yang Engkau tundukkan untukku dari makhluk-Mu, hingga Engkau mengantarkanku ke negeri-negeri-Mu dan menyampaikanku ke tempat ini berkat karunia-Mu. Engkau juga telah menolongku untuk menyelesaikan rangkaian ibadah dan manasik yang Engkau syariatkan. Jika Engkau telah ridha kepadaku, maka tambahkanlah keridhaan-Mu kepadaku. Namun jika aku belum memperoleh keridhaan-Mu, maka limpahkanlah rahmat dan keridhaan-Mu kepadaku mulai saat ini, sebelum aku berpisah dan menjauh dari rumah-Mu ini. Inilah saatnya aku berpamitan, jika Engkau mengizinkanku pergi. Aku tidak berpaling dari-Mu, tidak pula mencari pengganti selain-Mu atau selain rumah-Mu. Aku juga tidak merasa bosan kepada-Mu dan tidak pula kepada rumah-Mu yang mulia. Ya Allah, sertailah aku dengan kesehatan dan keselamatan pada tubuhku, peliharalah agamaku dari segala penyimpangan, perbaikilah akhir perjalananku, dan karuniakanlah kepadaku kemampuan untuk senantiasa taat kepada-Mu selama Engkau masih memberiku kehidupan. Satukanlah untukku segala kebaikan dunia dan akhirat. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kunjungan ini sebagai pertemuanku yang terakhir dengan Baitullah yang mulia. Jika Engkau menakdirkan ini menjadi kunjungan terakhirku, maka gantilah dengan anugerah surga karena rahmat-Mu, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang. Amin, wahai Tuhan semesta alam.

f. Doa Saat Meninggalkan Makkah:

االلَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ هٰذَا آخِرَ الْعَهْدِ مِنْ بَيْتِكَ الْحَرَامِ، وَإِنْ جَعَلْتَهُ آخِرَ الْعَهْدِ فَارْزُقْنِي الْجَنَّةَ عِوَضًا مِنْهُ

Latin: Allāhumma lā taj‘al hādzā ākhiral-‘ahdi min baitikal-ḥarām, wa in ja‘altahu ākhiral-‘ahdi farzuqnī al-jannata ‘iwaḍan minhu.

Arti: Ya Allah, janganlah Engkau jadikan ini sebagai pertemuanku yang terakhir dengan Rumah-Mu yang mulia. Jika Engkau menakdirkan ini sebagai pertemuan terakhirku, maka anugerahkanlah kepadaku surga sebagai gantinya.

Agar kamu tetap memahami arah doanya, berikut inti permohonan pada masing-masing putaran:

Putaran Inti permohonan doa
Ke-1 Tasbih, tahmid, tahlil; pernyataan iman; mohon ampunan dan keselamatan (‘afiyah) dunia dan akhirat.
Ke-2 Pengakuan Baitullah milik Allah; mohon dicintakan iman, dijauhkan dari kufur, fasik, dan maksiat; surga tanpa hisab.
Ke-3 Berlindung dari syirik, keraguan, kemunafikan, akhlak buruk, serta fitnah kubur dan fitnah hidup–mati.
Ke-4 Mohon haji mabrur, sa’i diterima, dosa diampuni, rahmat dan ampunan, serta rezeki halal yang mencukupi.
Ke-5 Mohon naungan ‘Arsy pada hari kiamat, minum dari telaga Nabi ﷺ, dan surga beserta yang mendekatkan kepadanya.
Ke-6 Mohon pelunasan hak kepada Allah dan sesama, kecukupan dengan yang halal, dan ampunan Yang Maha Luas ampunan-Nya.
Ke-7 Mohon iman sempurna, keyakinan benar, hati khusyuk, taubat nasuha, husnul khatimah, dan keselamatan dari neraka.

Peta di atas bisa kamu jadikan pegangan sederhana. Kalau kamu belum hafal seluruh lafalnya, tidak masalah. Cukup pahami arah permohonan tiap putaran, lalu sampaikan maknanya dengan bahasamu sendiri. Sebagian jamaah membawa buku manasik kecil dan membacanya langsung selagi bertawaf; sebagian lain memilih menghafal satu-dua putaran yang paling menyentuh hatinya. Keduanya baik. Yang penting, hatimu ikut hadir dalam setiap kalimat, bukan sekadar mengejar lafal sampai selesai.

Jadi, Pilih Doa Bebas atau Per Putaran?

Kalau sampai di sini kamu masih bingung memilih, tenang saja. Keduanya sah, dan kamu tidak perlu merasa bersalah dengan pilihan mana pun.

Yang penting kamu pahami: rangkaian doa per putaran adalah susunan ulama untuk memudahkan, bukan doa wajib yang ditetapkan Nabi ﷺ secara khusus di tiap putaran. Yang beliau contohkan justru ringkas — takbir di Hajar Aswad dan bacaan Rabbanā ātinā… di antara dua rukun. Jadi, kalau kamu hafal rangkaian per putaran, silakan amalkan. Kalau tidak hafal, doa dari hatimu sendiri pun sudah sempurna.

Satu-satunya hal yang keliru adalah meyakini doa per putaran sebagai syarat sah atau kewajiban. Selama kamu tidak menganggapnya begitu, kamu bebas memilih cara yang paling membuat hatimu tenang. Anggap bagian ini bukan teguran, melainkan kejelasan supaya langkahmu semakin mantap.

Tata Cara Tawaf Wada dari Awal sampai Selesai

Setelah tahu bacaannya, mari rapikan langkah-langkahnya. Tata cara tawaf wada sebenarnya sama dengan tawaf pada umumnya, hanya niat dan waktunya yang membedakan.

  1. Niat. Cukup di hati, meniatkan tawaf sebagai penutup sebelum meninggalkan Makkah. Tidak ada lafal khusus yang wajib diucapkan.
  2. Suci dan menutup aurat. Berwudu lebih dahulu, karena tawaf itu seperti salat dalam syarat sucinya.
  3. Tujuh putaran. Mulai dan berakhir sejajar Hajar Aswad, dengan posisi Ka’bah berada di sisi kirimu.
  4. Bacaan. Takbir saat sejajar Hajar Aswad, Rabbanā ātinā di antara dua rukun, dan sisanya kamu isi dengan dzikir serta doa bebas sesuai tata cara umroh sesuai sunnah.
  5. Salat sunah dua rakaat. Dikerjakan di belakang Maqam Ibrahim bila memungkinkan, lalu minum air Zamzam.
  6. Waktu. Kerjakan tepat sebelum kamu keluar dari Makkah. Kamu masih boleh menunggu rombongan, mengemas barang, atau berpamitan tanpa perlu mengulang tawaf. Yang dihindari adalah kembali sibuk berbelanja lalu menetap lama sesudahnya.

Supaya kamu tidak keliru membedakannya dengan tawaf lain, berikut ringkasan pembedanya:

Jenis tawaf Waktu pelaksanaan Kedudukan
Tawaf Qudum Saat baru tiba di Makkah, sebagai tawaf penghormatan. Sunah (khusus haji ifrad/qiran).
Tawaf Ifadah Setelah wukuf, bagian dari rukun ibadah haji. Rukun haji.
Tawaf Wada Tepat sebelum meninggalkan Makkah, sebagai perpisahan. Wajib bagi haji (jumhur); sunah bagi umrah.

Dengan langkah yang runut, tawaf wada terasa lebih tenang dan tidak terburu-buru. Kalau kamu ingin gambaran menyeluruh dari awal keberangkatan, kamu bisa membuka panduan umroh yang kami siapkan.

Hukum Tawaf Wada dan Keringanan bagi Wanita Haid

Pertanyaan yang sering muncul dari jamaah umrah: apakah tawaf wada itu wajib? Jawabannya perlu dipahami bertingkat, agar kamu tidak salah menempatkannya.

Bagi jamaah haji, jumhur ulama — Hanafi, Syafi’i, dan Hanbali — menilai tawaf wada hukumnya wajib, sedangkan Imam Malik menilainya sunah. Adapun untuk umrah, mayoritas ulama menilainya sunah, bukan wajib, karena dalilnya tertuju pada ibadah haji. Jadi, kalau kamu jamaah umrah, tetaplah tenang dan jangan keliru menganggap tawaf wada sebagai rukun.

Dasarnya adalah hadis dari Ibnu Abbas:

أُمِرَ النَّاسُ أَنْ يَكُونَ آخِرَ عَهْدِهِمْ بِالْبَيْتِ، إِلَّا أَنَّهُ خُفِّفَ عَنِ الْحَائِضِ

Latin: Umiran-nāsu an yakūna ākhira ‘ahdihim bil-bayti, illā annahu khuffifa ‘anil-hā’idh

Arti: Orang-orang diperintahkan agar akhir (perjumpaan) mereka adalah dengan Baitullah (tawaf), hanya saja diberi keringanan bagi wanita haid.

Muttafaq ‘alaih: al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, [Beirut: Dar Tuq an-Najah, 2001 M], jilid 2, no. hadits 1755; dan Muslim bin al-Hajjaj, Sahih Muslim, tahqiq M. Fu’ad Abdul Baqi, [Beirut: Dar Ihya at-Turats al-‘Arabi], jilid 2, no. hadits 1328.

Intinya jelas: wanita haid tidak wajib melakukan tawaf wada dan tidak perlu menunggu suci untuk pulang. Ini keringanan yang langsung disebut dalam hadis, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Jamaah yang mendapati haid menjelang kepulangan boleh langsung meninggalkan Makkah tanpa merasa ibadahnya kurang. Cukup perbanyak dzikir dan doa dari tempatnya, lalu titipkan salam perpisahan untuk Baitullah dari hati. Untuk memahami syarat suci dan ketentuan lain sebelum berangkat, kamu bisa membaca syarat umroh lebih lengkap.

Doa Saat Meninggalkan Makkah dan Perjalanan Pulang

Setelah tawaf wada selesai, tibalah saat yang berat: melangkah pulang. Nabi ﷺ mengajarkan doa saat memulai perjalanan, dan doa inilah yang lebih tepat kamu baca ketika kendaraan mulai bergerak meninggalkan Makkah.

Jamaah menatap Ka'bah saat tawaf wada sebelum meninggalkan Makkah.
Tawaf wada, perjumpaan terakhir dengan Baitullah sebelum kembali ke tanah air.

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَٰ رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

Latin: Allāhu akbar (3x), subhānalladzī sakhkhara lanā hādzā wa mā kunnā lahū muqrinīn, wa innā ilā rabbinā lamunqalibūn

Arti: Allah Maha Besar (3x). Maha Suci (Allah) yang telah menundukkan (kendaraan) ini bagi kami, padahal kami tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.

Muslim bin al-Hajjaj an-Naisaburi, Sahih Muslim, tahqiq M. Fu’ad Abdul Baqi, [Beirut: Dar Ihya at-Turats al-‘Arabi], jilid 2, no. hadits 1342 (dari Ibnu Umar).

Nabi ﷺ juga menganjurkan untuk bersegera kembali kepada keluarga setelah urusan di tanah suci selesai. Beliau mengingatkan bahwa bepergian itu bagian dari kepayahan, sehingga menuntaskannya dan lekas pulang adalah kebaikan tersendiri (HR al-Bukhari no. 1804 dan Muslim no. 1927).

Dan di tengah rasa haru meninggalkan Ka’bah, wajar bila hatimu menyimpan satu harapan: semoga dipanggil kembali. Titipkan harapan itu lewat doa agar bisa umroh setiap tahun, lalu pulanglah dengan hati yang lapang.

Wujudkan Umrahmu Bersama Alsha

Rindu menatap Ka’bah lagi biasanya datang justru saat kamu baru saja pulang. Tawaf wada memang perpisahan, tetapi ia juga janji untuk kembali. Kalau kamu ingin momen setenang itu terasa terbimbing dari manasik sampai kepulangan, Alsha — travel umrah dengan Akreditasi A resmi (SK PPIU U.401/2020) — siap menemani setiap langkahmu. Kamu bisa mulai dengan mengenal layanan kami lewat halaman travel umroh Alsha.

Saat kamu sudah siap merencanakan keberangkatan, tinggal sesuaikan pilihan paket dengan kebutuhanmu, entah umrah solo, berdua, atau bersama keluarga. Lihat rincian biaya umroh selengkapnya, dan biarkan Alsha membantumu menuju Baitullah dengan tenang.

Alsha Tours Solo

Alsha Tours Lampung